Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

Ritmik Sunyi

sama seperti detik
maka kubiarkan diriku berdetak
mengguncang  seluruh dinding dengarmu
mengisi setiap rongga dadamu dengan dentum
memancing rasa-rasamu berdenyar bergeletar
seperti ketuk-ketuk hujan diujung dahan
menarikan geliat  jiwa kesendirian
menunggumu segera datang
seperti bening air
ijinkan aku merunut mengalir
dalam setiap batang-batang buluhmu
memenuhimu dengan kesegaran tak terperi
menghadirkan setiap kesejukan yang kau ingini
menelisik segala ruang-ruang hatimu
dengan kelembutan dan kasih
yang tak terganti
hingga musim memajang sunyi
pada sepenggal bait yang terulis rapi
untuk sebait cinta dan rindu
yang entah kapan sampai ke hatimu

Cermin Diri

sekali waktu duduklah di hadapannya
tenggelam dalam pengamatan
sekian tanya terlontarkan
tanpa perlu jawaban
tentang sampai kapan
bersembunyi di balik kepalsuan
mengandalkan gincu-gincu memoles tutur
dan pipi yang terbalur tebal pupur
apalagi yang hendak kau sembunyikan pada jaman?
bukankah ngilu di tulangmu itu  satu penanda
bukankah kerut di garis matamu telah sejujurnya bicara
waktu memang tak pernah berdusta
bahwa setiap hal ada masanya
bijakkah meleburkan bayangan yang dia pantulkan
demi sebuah pengakuan kedirian
bahwa kita tidaklah seperti yang dia tampilkan
sibuk menutupi kepala ketika muncul uban
atau warna-warni yang kau lulurkan
demi sebuah penyamaran
ayolah...
apa yang kau peroleh dalam semu
tidakkah lebih baik menikmatinya
selagi kita bisa
sesuai dengan porsinya
dan biarkan nurani memenuhimu
dengan segenap jawabannya.

Minggu, 30 Juni 2013

Bunga Tanjung



sudah tiba hitungan detik untuk menyudahi juni
berkantung kenang terbungkus pecahan bulan
demi ikrar pada  senja yang berwajah
: sejahtera

masih aku berkaca resah dalam sunyi yang menghilir
sementara wangi bunga tanjung semakin tandang
dan decak riuh menanjung di ujung perhelatan

lantas, bagaimana kuakali waktu yang telah raib
sedangkan ribuan kenang bukanlah agunan
pun janji yang tergadai menagih punah
: menyerahkah?

pasti kubongkar patrian pijak yang bercendawan
meski perjalanan tertunda ribuan langkah
terlalu dini berserah pasrah

doakanlah,
sebab wangi bunga tanjung sepastinya tandang

Sajak Kita

Satu sore langit kemerah-merahan
Menggulung mega berarak

Di teras kita duduk bersama
matamu lekat pada buku yang kau baca
dan aku menikmati ranting-ranting 
menari memangkas angin
Riuh rendah kanak-kanak
dengan celoteh mereka

Satu waktu kita berjalan beriring
melibas kerikil tajam dan onak tanpa alas kaki
dalam jemari rapat menggenggam

Jalanan ini laksana sebuah buku
yang kita lalui lembar demi lembarnya
mengecup luka ataupun mengulum rindu

Dan puisi selalu menjadi penandanya
bahwa cinta tengah membangun istananya.

Ku retas prosa sederhana bersamamu
tentang wajah teduh tenang
tentang mata sendu berlumur rindu

Dalam terawang melukis langit
dengan phrase yang sahaja

Sayangku..
aku selalu mengingat bisikmu

segala yang indah,
memang tak harus ditunjukkan dengan bermegah.

Sabtu, 29 Juni 2013

Serpihan Kecil Hatiku

Malam lalu dalam sekumpulan resah
Ketika bulan teronggok malas di tepian jendela

Aku masih mencarimu
Di antara wewangian airmata
Pada bibir yang tak letih mengecupi do'a-do'a

Aku tak pernah peduli
Seberapa jauh jarak yang membentang
Dan menghalangi tangan kita untuk bertautan

Entah sejengkal..
Entah sehasta..
Atau beribu-ribu mil
seperti kenyataan yang ada
Yang aku tahu...
Kamu dekat dalam hatiku
Saat aku menyebut namamu
Di penghujung lafadz-lafadz dinihari
Kamu ada di pelukku
Melelapkan tidurku
Seolah aku ada dalam kepompong
yang hangat menentramkan

Kamu ada dimana saja
Bahkan dalam tiap kedipan mata.
Buka saja jari-jemarimu
Aku yakin disana
Serpihan kecil hatiku, bersembunyi dalam hangatnya.
:-)

Jumat, 28 Juni 2013

Sejak Kuakrabi Bayangmu

Malam tumpah dalam semangkuk resah
Ketika bayanganmu hadir di dalam hati
Berapa kali aku mesti menghela nafas
Agar perih ini dapat enyah

Aku hanya mampu menggelengkan kepala
Lalu sungai kecil mengalir dari sudut mata
Menolong jiwa mengurai pesakitan
Pada rindu yang tak tersampaikan

Aku menjadi sangat rapuh
Meski sejak ku akrabi bayangmu
Ada pelangi yang melintas di sudut hati
Dekat...meski aku merasa jauh

Aku mengamatimu tanpa menyentuhmu
Aku memujamu seluas hatiku
Akulah aku...
Wanita itu.

( Ho Man Tin, penghujung September dua tahun yang lalu )

Senja Yang Membuat Hatiku Jatuh Mencintamu

Senja ini belum berlalu
Duduklah disini, sejenak di sampingku
Melihat camar berarak, riuh menuju peraduan

Membaca keheningan
Yang luruh diantara pandanganku dan terawangmu.

Sebentar lagi hari beranjak malam
Dian-dian akan menghiasi bilik-bilik mungil di kaki bukit
Lalu kita akan berpeluk dalam temaram cahaya.

Lihatlah padaku, lalu tuturkanlah sejenak tentang hidup
Bahasa yang teramat aku suka darimu
Tentang syair kemarahan yang bergolak
Tentang cinta manis merah jambu
Atau tentang sajak bunga tersiram embun.

Hari-hari beranjak tapi mataku tetap penuh rindu
Pada masa -masa yang berkelebatan saat kita ceritakan
Cinta yang menepi ataupun hasrat yang menyemi.

Engkau selalu memenuhiku dengan sekeranjang makna hidup
Tentang kenapa kita mesti tengadah melewati semua
Meski peluh berubah menjadi merah bata
Atau tapak hancur oleh duri dan luka-luka.

Mas...
Tahukah engkau ?
Aku mencintaimu hingga batas yang aku pun tak akan pernah tahu.

Rabu, 26 Juni 2013

Seumpama Engkau

seumpama engkau adalah pagi
aku tak pernah ingin kau lekas pergi

karena kutahu pasti
hangatnya mentari terselip di sela jemari

dan aku bebas menjadi bayangan
yang tersembunyi
di sela-selanya

dan bilamana engkau menjadi sore
aku ingin kita pun segera sampai

pada sebuah huma di kaki bukit
redup sinar di kaki dian sebagai penerangnya
berdampingan


memandang jingga langit senja
kembali ke pangkuan kelam

menelusur gulita
meraba,
menafsir gema asmara

kuharap cinta menetap di sana
dalam ruang-ruang hati hening
di mana letih terbaring.

Sore Pukul Lima Lebih Lima

Sore itu…
pertengahan Maret yang basah
sejak gelap menjelang, hari selasa
aku merasakan kau meronta-ronta di dalam sana
tak tahan ingin melihat dunia

Sore itu…
pukul lima lebih lima
tujuh kali nafas terhela
tangismu membahana
menggetarkan hatiku
membayar lunas semua sakit dan lelahku
merobek takdirku menjadi seorang ibu, atas hadirmu
semua tertawa, menarik nafas lega

Sore itu…
pukul lima lebih lima
kubaringkan kau di dadaku
mata bulat dan hidung bangirmu
kulit merah dan tulang-tulang kuatmu
lekat hangat dalam pelukku

Sore itu…
pukul lima lebih lima
dunia menyambutmu
pangeran tampanku.

( Kumpulan Puisi untuk Dewangga, 2005 )

Teruntuk Dewangga-ku

Tuhan…ini aku, perempuan yang sedari pagi mengetuk-ketuk pintu rumahMu
berharap Engkau menaruh pandangan sejenak padaku
bersimpuh menunggu belas kasihMu
atas segala pinta yang kumohon untuknya

Dia biji mataku, Tuhan…
matahari yang dengan terpaksa ku tinggalkan jauh disana
demi sebuah impian tentang esok yang kami susun dalam pigura masa depan

13635687131491476727

Hari ini tepat 8 tahun usianya…
aku meminta maaf padanya
atas semua mimpinya yang belum mampu ku wujudkan
atas semua harapan yang masih menjadi angan-angan
tergantung di awan, tak terpetik oleh tangan kecil kami

Di matanya adalah cinta
sehingga aku kuat bertahan
setiap rengek tangisnya adalah cambuk di punggungku
agar aku tak menyerah begitu saja pada keadaan
aku tak meminta banyak hal kepadaMu, Tuhan…
hanya yang terbaik untuknya
walau aku harus menebus dengan seluruh hidupku
dengan setiap tetes keringat hingga ia kering dari pori-poriku
akan kuberikan untuknya

Aku tak mampu memberikan apa-apa, Tuhan…
hanya sebuah janji
bahwa selama ini kami berdua mampu melewati
maka esok, kami pun akan melewatinya
lebih dari kemaren dan hari ini

selamat ulang tahun, nak…
sebesar apapun kamu sekarang, di hati mama kamu tetap seimut ini.

Wajah Di Balik Senja

Kau kah itu?
seraut musim semi di balik redup mentari
pendar parasmu tertimpa jingga
ranum bak rekah delimaduduk kau tak jauh
dari riak yang menjilati pasir di kakimu

Angin menggelombangkan kerudung hitam
menari gemulai merupa dewi
apa yang kau nanti puan ?

Aku seringkali mengamatimu
tatkala nyanyian embun memanggil matahari
engkau bergegas menuju surau di seberang jalan ini
tak nampak wajah malas,
ataupun enggan, justru kecantikan nan alami

Sore ini, kembali aku mengekor langkahmu
selalu tempat itu tertuju
sebegitu indahkah senja yang lekat di matamu, puan?
hingga tak kau hirau waktu
dan hanya berlalu, jika gelap menelan keemasan langitmu.

Kidung Smaradhana

Letih dalam kesendirian
ribu-ribu sepi

malam lusuh meski tanpa keluh
gemintang menyembunyikan penanda
bulan memeram luka
dan waktu tak juga kuasa memangkas jeda

Dimana kamu…?
saat ribuan tetes hujan seolah merutuki rindu
rasa cinta seakan berada
di ruang dan saat yang keliru
bahkan ketika pikiran penuh
dengan anggapan dan segala kemungkinan

ini bukan hanya tentang tidak atau iya saja, bukan?
kita toh masih bisa berada di antaranya

Lalu selanjutnya…
tanyakan saja pada pagi
di sela kelam yang tertinggal
ia datang dengan menelan segala kenangan

apakah masih tersisa sedikit embun ?
untuk cawan kecilku
sejak gelap menjelang aku dahaga
dan kau pun tak nampak ada

meski hanya untuk sekedar membagi airmata
bukan untuk luka pastinya

Malam ini…
mungkin aku sedang tak ingin meneriakimu lagi
hanya sekedar berbagi sapa
diantara hujan yang kian deras hadirnya

ku tunggu hingga mereda
dan berganti gerimis saja
padanya akan ku pinjam suara,

maka jika nanti ada rintik yang menyapa daun telingamu
dan bulir lembut yang menyapu roman mukamu
itu pasti titipan dariku

Selamat malam, sayang …
rindukah kau padaku ?

Tentang Senja Tanpamu


Kemana mengendus arah angin ?
pada sore yang lusuh dan dingin
pun mentari semakin terhuyung
merebah di pelataran langit

Kiranya, angin tak tentu menghilir
dan menghulu pada ruang bertabir


Masihkah setia segala penantian
di setiap bias elok memerah
menerpa seraut muram wajah
sementara hitam, merupa kepastian?


kesetiaan bukan sekadar detakkan
raga yang tergulung putaran waktu

karenanya, usah sesalkan penantian
sebab lalu sepastinya berlalu

Katamu, senja teramat cantik
dalam genggam tangan yang lentik,
haruskah kuyakin, sedang semilir
lebih senang menghantar getir?

Apakah senja hanya sebatas rintik
yang sanggup menopang barisan ritmik ?

sementara jingga hanya sebentuk
antara merah dan kuning sebelum padam cahaya

Entahlah…
Yang ku tahu, hanya ingin ku abadikan
sebelum malam benar menjemputnya
menenggelamkan tanpa sisa

diam diam kupetik
sebentuk warna terpotong
sepenggalan kusimpan
untuk dinikmati esok atau lusa
: Aku khawatir, kamu lupa

Ku Ingin Lebih Lama

Mengapa semua berlalu sekejap
bahkan ketika kata cinta belum lunas terucap

Barangkali masih ada rindu berterbangan
lalu hinggap di pucuk-pucuk rerumputan
hawa basah yang ditinggalkan oleh hujan
belum jauh berlalu dari kulitku

Kurasa semua terlalu cepat
bukankah aku sudah pernah berkata

“ku ingin lebih lama bersamamu”



Disini masih terbata mengeja kata cinta
lalu diam menggantung di sudut bibir
tanpa pertanda

Biar mentari menjadikannya uap
atau embun meleburnya dalam debu
kita tuli, kita pun bisu

namun tekun menenun waktu
Lelah hari ini tertebus senyummu
yang masih rapi terbingkai di pigura kayu

kembali memaksaku
mengguratkan alur rindu
yang lekat di jendela waktu milikmu dan milikku.

Gadis Berambut Ikal

Aku masih sering melukiskanmuDisela-sela jeda jadwal padatku
Dengan pulpen di antara gigiku
Dan senyum simpul tersungging di sudut bibirku

Mata bulat dengan bibir yang mungil merekah
Hidung tak terlalu mancung tapi melekat indah

Baju a la putri yang berenda-renda
Rambut terurai lepas atau diekor kuda
Jepit dan pita mungil merah jambu
Bertengger manis di kepalamu

Satu sore di tanah lapang
Saat mentari telah redup membayang
Beranjak luruh memasuki peraduan

Engkau masih di sana
Berlarian di antara gelak dan tawa
Tak kau hirau peluh yang mengalir di pelipismu
Hanya untuk seekor kupu-kupu kelabu

Ah…
Gadis berambut ikal
Memilikimu mungkin hanya sebuah mimpi
Yang tak wujud dan cuma menjadi imaji

Ku kubur dalam-dalam
Seperti senja yang harus ditelan malam.

Dian Di Kaki Langit

::Gelap ini sebentar lagi datang
Arak-arakan camar pulang ke peraduan
Meninggalkan senja
Melepaskan ombak setelah seharian bercengkrama
Membiarkan pantai larut menepi pada harap-harapnya

::
Gelap ini lekas bergegas
Pada tumpuan kaki yang melangkah tergesa
Menjeda waktu yang bersandar di bahu
Berkutat sepanjang hari tanpa henti
Atas nama cinta dan senyum para tercinta

::
Gelap ini sudah menjelang
Pada raga letih yang hendak ku sejajarkan
Agar esok mendulang kekuatan
Menatang musim, menakhlukkan alam

::
Gelap ini lalu kelabu
Samar bayang dibias cahaya
Aku rindu hadirnya
Serupa dian di kaki langit
Menuntunku menujuMu
Agar langkah tak sesat dan semu.

Gerimis Sore

Dear Kangmas…

Gerimis lagi sore ini,
sudah sekian hari,
langitku tak nampak ramah,
tanah tempatku berbijak
senantiasa lembab basah

Aku berdiri di sini,
tempat yang sama dengan waktu itu,
halte kecil dekat rumah sakit tua,
menunggu bus kota,
diantara rinai yang tak kunjung reda

Payung biru cantik
menghias di atas kepala,
namun angin terlalu genit kangmas…

hingga pipiku basah oleh tempiasnya,
dingin segera merambati sukma

Hujan kali ini…
terasa sangat berbeda,
tak kulihat macam gradasi warna,
tak mengalirkan aroma apa-apa

Hanya bulir bening,
membelah pandangku
serupa jarum-jarum rindu,
tajam menghunjam tiap pori-pori rasaku

Ah biarlah…
hujan ini menjadi hujan saja,
karena aku tahu,
jika kau ada dekatku,
pasti tak kau biarkan
gigil ini berlama-lama menyentuhku

Tunggu kangmas…
aku sudah dalam perjalanan pulang,
sambut saja dengan pelukmu,
karena hanya itu yang ku perlu.

Selasa, 25 Juni 2013

Menunggu Balasan Rindu

Rabu telah lewat tengah hari, kangmas…
Ini sudah cangkir yang kesekian kali,
kepul-kepul beraroma melati

Gerimis belum berhenti,
sejak dini hari,
dan aku masih di sini,
menikmatinya bersama
setangkup roti berisi selai,
di sela-sela kertas yang terberai,
menunggu untuk segera diberesi

Mendungkah langitmu hari ini ?
Atau justru secerah senyumku
di foto yang kukirimkan tempo hari ?

Apapun itu,
aku sangat mengenalimu,
bagaimana engkau
melewati hari-harimu

Aku merindukanmu…
Rindu mengintip paras seriusmu
di depan layar bisu,
sebatang rokok terselip di antara jemarimu

Lengang…
hanya ketuk-ketuk keyboard
dan detak di dinding,
seperti melodi yang mengiringi
menyusun kepingan imaji

Rindukah kau?
pada kopi yang kuseduhkan
Atau sekilas pelepas jenuh berupa pelukan

Rasa-rasanya
musim ini kian mengejekku
dalam penyiksaan,

aku ingin segera pulang,
karena rindu ini
harus segera dituntaskan.

Sheung Shui, di antara rinai tak berjeda.

Siluet

Bayangmu rebah di sepetak tanah
ketika wajah sore tiba di awal musim ini

begitu kusam dan berdebu
sementara angin perih
menerbangkan helai daun kering,
seolah mengejek
suwir-suwir guratan luka
yang merajam..pedih

Dari kejauhan aku mengamatimu
sengaja…
karena sudah tak ingin lagi
tak berjarak denganmu

cukup melihatmu
menyimpan episode-episode lalu
dalam kukuh almari kayu
menutup rapat lalu membuang kuncinya

Ku pastikan tak ada esok
antara kita
kamu keping yang retak
dan aku keping yang lepas

namun aku bukan penyempurnamu
dan kamu takkan pernah bagiku

Aku beranjak
membiarkan siluetmu
mulai mengurai jarak
berlalu…
dan membiarkan
gelap menelan seluruhmu.

Untuk Cinta

Untuk cinta yang menyemai
di mata beningnya
tulus, tanpa pura-pura

kadang penuh kilatan suka,
namun tak jarang juga airmata

dan bila itu berlaku
laksana palu godam
menghantam kepalaku
seperti ribuan sembilu mengiris hatiku

jangan nak…
jangan lagi

Untuk cinta, yang tumbuh subur
di hati lembutnya
kepada alam, kepada sesama

tanpa tendensi
hanya karena kasih yang murni
bahwa bahagia itu memberi
bahagia itu berbagi

Untuk cinta, untuk Dewangga
pangeran baik hati
yang membuatku bisa
mencicipi ujung surga,
karena menerima anugrah,
memilikinya di dunia.

I love you, dearest son…:-*