Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

Lelaki Hujan Dan Biji Bunga Lotus

Aku masih menandai keringnya musim lalu. Ketika perhentian yang kuinginkan kiranya hanya dermaga semu. Fatamorgana.

Sendiri, mengamati bulir-bulir yang bertabur selaksa jarum menghunjami bumi. Basah... Lalu meruapkan aroma yang...entahlah. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku suka sekali membaui aroma tanah basah. Yang pasti, sensasinya menyegarkan. Sekejab saja. Lalu setelahnya, hanya dingin yang merambati kulitku. Menusukkan gigil dalam tiap pori-pori tubuhku.

Beranjak? Oh..tidak! Aku selalu ingin menikmati ini hingga hujan usai. Menyisakan rinai kecil, menabuh daun-daun agloenema di sudut beranda. Menyisir kristal-kristal mungil di anak rambutku, juga di meja kayu coklat tua. Lalu kuusap bayang redup pada kaca-kaca yang basah.

Penantian, adalah hembus yang kutiupkan pada semangkuk minuman panas berisi biji bunga lotus dan klengkeng kering. Lalu kusesap getir manis hangat lewat kecup bibirku.

***
"Hujan, adalah ranggasnya langit setelah diterjang kemarau," begitu katamu saat rintik-rintik kecil mengganggu pertemuan kita.

Dan, matamu masih saja terpaku pada hujan yang dengan mudah menghapus jejak. Padahal, baru sesaat tadi kita menari-nari, melepas rindu di atas rumput. Sesekali kau katakan "Aku cinta padamu!" Pernyataan yang selalu ingin kudengar namun tak pernah lantang kuucapkan.Pernyataan yang memberi resapan hangat, di saat yang sama membuatku semakin menggigil.

Aku tahu, takdirlah yang sengaja menggiringmu, agar aku percaya bahwa tak ada kata terlambat untuk sebuah ketetapan. Dan kau adalah ketetapan yang kuharapkan, seperti hujan yang menghapus musim lalu.
Aku tak pernah memimpikan, tidak juga membayangkan. Bertemu denganmu, seorang pria yang juga menyukai hujan. Lelaki hujan, begitulah aku menyebutmu.

Dan saat-saat seperti ini, kita hanya menatap hujan. Selalu seperti itu, berdekatan dalam diam. Tanpa pernah ingin tahu, apa yang ada dalam benakmu, juga padaku. Hanya suapan-suapan kecil minuman hangat biji bunga lotus dan klengkeng kering yang mengisi kekosongan. Kegemaran yang tanpa sengaja kutularkan padamu.

Dan rintik sepertinya mulai lelah menemani keterpakuan kita. Perlahan kamu melangkah ke tepian beranda, menjulurkan tangan, menengadahkannya ke langit. Seolah memohon dan tak rela hujan meninggalkanmu begitu saja.

"Esok pasti kembali!" ujarku pelan.
Kamu hanya melirik dan tersenyum. Namun itu adalah magnet yang menarik langkahku untuk bersama menyusuri sisa-sisa hujan.

Dingin.
Sepi.
Lalu aku tenggelam dalam hangatnya pelukmu.
Mungkin itu, sebab aku menyukai hujan. Dalam hujan kita membaur.
***
HSW_VP

Minggu, 30 Juni 2013

Bunga Tanjung



sudah tiba hitungan detik untuk menyudahi juni
berkantung kenang terbungkus pecahan bulan
demi ikrar pada  senja yang berwajah
: sejahtera

masih aku berkaca resah dalam sunyi yang menghilir
sementara wangi bunga tanjung semakin tandang
dan decak riuh menanjung di ujung perhelatan

lantas, bagaimana kuakali waktu yang telah raib
sedangkan ribuan kenang bukanlah agunan
pun janji yang tergadai menagih punah
: menyerahkah?

pasti kubongkar patrian pijak yang bercendawan
meski perjalanan tertunda ribuan langkah
terlalu dini berserah pasrah

doakanlah,
sebab wangi bunga tanjung sepastinya tandang

Selasa, 25 Juni 2013

Melepas Bungkam

masihkah angkuh memenjarakan bunyi untuk kata dan sapa
mengadu kuat antara bibir dan isi hati yang terjiplak netra
mengabaikan bayang dan selaksa ingin menari liar dalam kepala

tak lelahkah mengelabui senyum dengan lengkung dingin, sementara
rasa dan hasrat terus berontak pada raga yang bertingkah pura-pura
hingga kenyang melahap ragu di sisa nyali yang kalah sebelum berlaga

cinta, bukanlah romansa matahari dan rembulan
tak pasti siapa yang mengejar atau dikejar
merajai sebentang waktu tak bertutur tak berlisan

hanya pesona tak berkesudahan yang digilir dan ditebar
lantas sampai kapan mengakhiri penantian
jika kata tak pernah menyekutui pengakuan

___hers.130313
antologi untuk nanti

Kamis, 20 Juni 2013

Seumpama Angin Menjabar Ingin


pernahkah bertanya pada angin,
mengapa dia beranak sunyi?
bercumbu bersama mega-mega,
hanya untuk melahirkan hujan
atau menyekutui lautan
hanya untuk menghapus jejak
jejak di pantai
kiranya, tak rela kubiarkan angin menghempas ingin
untuk berikrar dan melingkar erat di jari manismu
 |

Bdg,290812′00′00

Tak Ada Yang Abadi


Kau...
wujud yang lamat kulihat
kali pertama pelupuk mata terbuka

cerlang sejernih pandang kekasih
sabar menjalar di langit nalar

mengelus santun embun
menuntun tangan menatah rindu

sebelum cahaya mentari pagi
padam di sumbu kalbu

sebelum waktu habis tertelan
langkah bergegas mengejar hari

Tapi...
apakah kau tahu itu ?

gulita kini menelan hati
menyulam gelap dalam sepi

angin meniup luka
meliuk-liuk dalam rongga dada

diam, ku tatap awan tak bergerak
terpejam, mengarak lelah meninggalkan mimpi
aku binasa tanpamu.

*kepergian mengajarkan pada kita bahwa memang tak ada yang abadi.

poet '23/4/2013

Rabu, 19 Juni 2013

Kamu

masih kamu...yang mengajariku melukis pagi
melalui butir-butir pinta yang luruh
serupa percik bulir embun di ujung daun
yang bertempias dan meresap pada akar pelafadz harap

masih juga kamu...
yang menuntun lingkar pena dalam bait-bait aksara
merangkum garis-garis waktu yang lekat di jendela
mengukir ruang-ruang kosong, tanpa melewati perbantahan masa

masih tetap kamu...
yang dulu diam
diam kuamati
lalu tersipu
runduk merindu

poet'22/4/2013
-

Pada Sebuah Perjalanan